Meniti Mimpi, Melawan Musuh Besarku

Mimpi…sebuah kata yang selalu terlintas dalam benakku. Begitu besar mimpiku untuk menaklukkan dunia. Begitu besar keinginanku untuk mencapai tujuanku. Namun tak semudah yang ku bayangkan, semua itu perlu perjuangan yang sangat berat. Bagaimana mungkin seorang diri aku harus melawan dunia yang begitu besar ini. Tak semudah membalikkan ibu jarimu dan mengatakan keburukan orang lain.  Perlu sebuah strategi, dan kerja keras layaknya berperang melawan musuhmu.

Meniti sebuah kehidupan yang selalu naik turun, haruslah kita menyiapkan diri kita sendiri sebelum beranjak dari peranduan kita menuju sebuah medan yang selalu menanjak setiap saat. Pada masa persiapan ini kita harus mampu benar-benar bisa menyiapkan apa yang seharusnya kita siapkan. Segala macam senjata kita kumpulkan untuk melengkapi diri melawan tantangan yang akan datang menghampiri. Namun tak urung pula kita lalai dalam menentukan persiapan kita. Rasa malas dalam diri pun kerap menghantui, antara ya dan tidak dalam menentukan arah yang kita akan tempuh. Apakah kita mau mengorbankan segenap waktu kita untuk mengumpulkan senjata itu sedikit demi sedikit. Apakah kita mau merelakan untuk meninggalkan orang yang kita sayangi. Apakah kita mau melepaskan segela aktifitas yang biasa kita lakukan. Itulah hal yang paling berat yang akan kita rasakan saat kita mulai mempersiapkan diri kita menuju sebuah mimpi yang kita inginkan.

Sebuah keinginan yang begitu besar meraih mimpiku membuatku sedikit tersadar bahwa semua pengorabanan itu memang tak bisa kita hindari, jika kita ingin membangun mimpi kita dari sejak dini. Ku Sadari bahwa banyak orang-orang yang memang konsisten akan mimpinya, selalu berusaha dengan keras menaklukkan dirinya sendiri dan berjuang melawan semua tantangan yang ia hadapi. Meski sering orang tidak pernah atau jarang melihat apa di balik semua yang telah dilakukan orang-orang itu. Aku pun demikian, berharap bahwa aku bisa seperti mereka, namun tak pernah atapun hanya sekedar mau berusaha untuk bangkit melawan sebuah peperangan. Sehingga hasil yang ku peroleh pun tak sesuai dengan apa yang aku harapkan.

Dalam hari yang baru, aku mencoba untuk bisa bangkit sedikit demi sedikit. Belajar dari orang-orang yang punya tekad yang kuat untuk meraih mimpinya. Tentunya semua kebangkitan itu tidak terlepas dari peran yang signifikan dari orang yang aku sayang. Sedikit demi sedikit, rasa untuk melawan semua musuh dalam diriku sendiri mulai miningkat. Rasa malas yang dulu kerap datang, kini aku bisa melawannya dengan tekadku. Bahwa subuah hasil yang besar, tak akan bisa diperoleh dengan hanya berdiam diri di peranduan.

Melawan keterbatasan, meski sedikit kemungkinan. Hingga sedih tak mau datang lagi (Ipang)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: