Pacar pertamaku, musuh besarku

Musim semi di hari itu, aku masih duduk di kelas 2 smp yang akan beranjak menuju tingkat yang lebih tinggi. Tepatnya, masa-masa setelah ulangan umum berakhir. Aku bertemu dengan seorang yang sebelumnya tak kuduga akan berbuah menjadi sebuah kisah yang tak berujung. Dia adalah seorang adik kelasku, sebut saja luh jati. Parasnya tak begitu cantik. Tubuhnya tak terlalu tinggi seperti kebanyakan cewek-cewek desa pada waktu itu. Rambutnya ikal, sedikit bergelombang dan pajangnya sebahu, selalu dikepang dua karena aturan dari sekolah.

Kisah ini berawal pada saat tour perpisahan anak-anak kelas 3. Tujuan utama tour pada waktu itu adalah garuda wisnu kencana. Disitulah tempat acara perpisahan dengan anak-anak kelas 3 berlangsung. Tak kurasa dalam perjalanan, aku berada satu bus dengan dia. Pada awalnya, layaknya orang yang belum saling tahu dan kenal tentunya aku tak menghiraukan keberadaannya dari baru berangkat meninggalkan sekolah hingga sampai di tujuan. Toh juga waktu itu aku sedang menyukai cewek lain yang tak lain adalah kakak kelasku. Tidak terpikirkan olehku untuk perhatian terhadap cewek lain apalagi yang berda satu bus denganku.

Setiba di GWK, aku bersama teman-teman menyempatkan diri untuk mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan yang tak kan pernah terlupakan. Termasuk juga berfoto dengan orang yang aku suka, namanya mirah, seorang pribadi yang amat baik hati berbintang capricorn yang lahir tanggal 29 desember. Girang hatiku karena telah dapat berfoto dengannya. Namun tetap menyisakan satu kekecewaan bagiku, karena penampilanku waktu itu tidaklah seperti sekarang tahu banyak mode dan style. Hanya bermodalkan celana jeans dan baju lengan panjang dengan lengan ganda yang aku beli di pasar karangasem bersama ayahku, sangat jauh dibandingkan dengan penampilannya yang sedikit lebih glamor kalau boleh aku katakan. Rasanya seperti bumi dan langit, jauh sekali perbedaanku dengan dirinya. Namun itu tak menjadi momok yang berkepanjangan bagiku, karena toh juga dia menganggapku sebagai adiknya sendiri. Terlalu bermimpi bagiku untuk mendapatkannya, seperti si cantik dan buruk rupa meski aku tak seburuk seperti si buruk rupa. Waktupun berjalan begitu cepat tidak terasa masa-masa di gwk sudah berakhir, dan tibalah waktunya untuk berangkat ke objek wisata selanjutnya yaitu pantai matahari terbit, sanur. Setengah jam perjalanan akhirnya aku sampai di pantai itu. Pantai yang begitu dekat denganku, pantai yang selalu menemaniku saat aku liburan di rumah pamanku di sanur. Rasanya seperti kembali berlibur sejenak mengenang waktu liburan sebelumnya, dimana aku berlari-lari mengitari garis pantai yang berpasir hitam. Setelah turun dari bus, aku berjalan-jalan bersama teman-teman sambil mengisi waktu bersama mirah semasih ada kesempatan. Sempat berfoto-foto dibalik bibir pantai matahari terbit yang waktu itu belum terkena abrasi yang parah seperti sekarang. Saat berjalan-jalan menyisiri pantai itulah, aku melihat seorang gadis kecil bermain-main di pinggir pantai bersama temannya, bermain seperti tidak pernah ke pantai sebelumnya. Begitu riangnya ia menikmati sore hari di pantai itu, dengan suaranya yang begitu nyaring terdengar. Lebay pikirku, terlalu berlebihan rasanya bila seseorang bermain seperti itu, tak tahu malu dan kampungan. Namun setelah sejenak aku tak menghiraukannya lagi. Hanya sekilas dalam benakku gadis itu terpikirkan.

Sampai akhirnya matahari mulai terbenam, waktunya seluruh anak-anak smp negeri 2 selat untuk pulang. Semuanya naik ke bus dan menikmati perjalanan mereka menuju rumah. Dalam perjalanan pulang, aku duduk sendirian terbengong mengenang apa yang barusan aku alami. Sebuah pengalaman terakhir sebelum mirah pergi meninggalkan sekolahku menuju jenjang yang lebih tinggi. Dan, tiba-tiba aku tertuju pada satu sosok yang baru saja aku lihat di pantai bersama teman-temannya. Seorang yang tadinya di pantai aku lihat begitu riang, ternyata ada satu bus bersamaku. Hanya sedikit tertegun karena tidak abis pikir, seorang yang aku lihat risih ternyata bisa bersamaku. Karena tempat duduk yang agak dekat, tiap sesuatu yang ia lakukan aku dapat melihat dan mendengarnya. Terdengar aneh dan lebay kurasa, tiap pembicaraannya terkesan berlebihan, cerewet tiada henti-hentinya bersenda gurau bersama temannya tanpa kenal lelah setelah seharian berkeliling tamasya. Sedangkan aku tetap menikmati kesendirianku, hanya sekedar ikut tertawa bersama temen-temen yang ngelawak tiada habisnya. Perjalanan begitu cepat kurasa, hingga jam tanganku menunjukkan pukul 18.00, sampailah aku didepan sekolahku menunggu jemputan dari bapakku. Hari yang begitu melelahkan, dengan berbagai momen indah yang ku alami bersama orang yang aku suka, meski menyisakan kekecewaan karena aku tak dapat memilikinya dan akhirnya berpisah sampai disitu.

Akhirnya kesendirian yang kutakutkan datang padaku. Kesendirian karena aku merasa tak ada lagi yang bisa menggantikan mirah di hatiku. Namun perlahan waktu berjalan, aku memulai kesendirianku dengan ketabahan hati. Berharap bahwa aku bisa melupakannya sejenak dan memulai sesuatu yang baru. Suatu ketika, seorang yang pernah aku lihat di bus sewaktu tamasya perpisahan muncul begitu saja dihadapanku. Waktu itu masa-masa peralihan menuju tahun ajaran yang baru, kebetulan karena keterbatasan ruangan kelas. Antara kelasnya dan kelasku jadi satu ruangan dengan waktu belajar yang berbeda. Sama-sama berada di kelas e meski berbeda satu tingkat, aku kelas 2 sedangkan dia kelas 1. Karena itu, aku menjadi sering menjumpainya disetiap saat pergantian kelas akan berlangsung. Sebelum ia masuk kelas karena kelasku masih menggunakannya, kulihat ia selalu bersama teman-temannya bercanda tawa, layaknya seorang yang terkenal dengan rasa percaya dirinya yang tinggi tak menghiraukan kondisi sekitarnya. Meski teman-teman yang lewat disampingnya berpikir, betapa ganjennya cewe ini. Dan aku pun punya pikiran seperti itu, benar-benar seperti seorang artis yang sok gaya ngerumpi di tempat umum. Kesan pertamaku terhadapnya begitu negatif, rasanya otakku terasa mau tumpah melihat tingkah orang yang seperti itu. Ganjen, sok pamer, dan lain sebagainya, bercampur aduk pikiranku. Tapi entah kenapa, rasa benciku yang muncul kerena melihatnya selalu datang padaku. Terkadang meski ia tak ada didekatku pun, resa benci itu terngiang dalam pikiranku. Ada apa gerangan, tanyaku pada diriku sendiri.

Lama sudah akhirnya hal itu berlangsung, tibalah waktunya untuk beranjak dari kelas 2 menuju kelas 3. Pada saat itu bapak kepala bagian kemahasiswaan mengumumkan bahwa akan dilaksanakan rolling siswa dari masing-masing kelas. Murid-murid yang mendapatkan rangking 1 sampai 3 dikelasnya di pindahkan ke kelas a untuk dikumpulkan menjadi satu kelas unggulan. Sempat shock waktu itu, karena aku tak kuasa bila harus berpisah dengan teman-temanku yang baik hati meski terkadang suka berbuat jail dan melanggar aturan, dan tentunya aku tidak ikut jika terjadi hal-hal yang bertentangan dengan aturan sekolah. Karena aku termasuk oarang yang taat akan aturan. Rasa takut sempat menghantui karena aku akan dihadapkan pada orang-orang yang tergolong pintar. Pikiranku terhenyak, takut jika aku kalah bersaing dengan mereka. Meski dulu aku pernah meraih predikat terbaik diantara semua kelas sebanyak 2 kali. Namun, setelah kulalui waktu bersama teman-temanku yang baru, aku menemukan jawaban yang selama ini menggantung di pikiranku. Ternyata mereka tidak seburuk yang aku bayangkan. Mereka juga manusia, terkadang juga pasti melakukan suatu kesalahan. Banyak hal-hal yang menarik yang aku dapatkan dari teman-teman baruku. Salah satunya adalah bisa sharing segala ilmu yang dimiliki mereka dan aku. Saling mengisi kekurangan, saling membantu saat ulangan tiba.

Meski sekarang aku berada di kelas 3a, namun saat istirahat aku selalu menyempatkan diri untuk berbelanja ke warung langgananku dulu pada saat masih kelas 2, karena warungnya tepat bersebelahan dengan kelasku. Di warung itu, sering aku temui dia, luh jati, bersama kawan-kawannya berbelanja saat istirahat, menikmati semangkok hidangan soto ayam yang nikmat. Disanalah awal mula perkenalanku dengan dirinya, seorang yang sebelumnya aku anggap ganjen, sok berlagak artis, ternyata menyimpan sebuah rasa yang berbeda dalam hatiku. Tak kusangka perasaan benci yang muncul sebelumnya kini perlahan luluh lantak, bagaikan sebuah butiran pasir pantai yang dikikis ombak. Sempat lama aku berpikir, kenapa rasa itu bisa berubah. Padahal sikapnya tidak berubah, masih tetap seperti saat aku membencinya. Mungkin inilah yang disebut sebagai bila tak kenal maka tak sayang. Meski pada saat itu tidak hal yang begitu spesial dariku terhadapnya. Dengan perkenalan yang cukup singkat tersebut, hatiku mulai berubah. Aku dan dia lumayan sering bertemu, walau hanya berpapasan. Kebetulan seorang temanku juga lebih dulu mempunyai suatu rasa yang special terhadap salah seorang teman dekatnya. Sehingga di kala temanku melancarkan aksinya, tak jarang aku diajak ikut menemaninya. Kesempatan demi kesempatan pun datang, semakin sering aku dan dia dipertemukan secara tidak sengaja entah itu di kantin langgananku, ataupun dikelasnya. Semakin dekat, mungkin bisa disebut demikian karena aku sudah mulai menemukan jati dirinya. Ternyata orang yang sebelumnya aku benci membuatku merasa senang dan bahagia. Jika bertemu aku bersama temanku menyempatkan diri untuk sekedar bercanda tawa dengannya melepas kelelahan setelah menempuh pelajaran di kelas. Orangnya asik memang, humoris penuh canda dan tawa dan itu yang membuatku merasa senang jika bertemu dengannya. Tak lama berselang, setiap momen yang terjadi bersamanya begitu membuatku berubah. Perlahan ada benih-benih sayang yang timbul dalam diriku, suatu rasa yang membuatku merasa sepi bila dia tak ada disampingku. Entah dia punya perasaan yang sama atau tidak, pada waktu itu aku begitu mulai yakin akan dirinya, bahwa dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Kini, semuanya benar-benar berubah….pertemuan dengannya yang sebelumnya hanya sekedar untuk bercanda tawa, tidak lagi demikian. Setiap jam istirahat kedua, aku menyempatkan diri untuk menemuinya diruang kelasnya. Kelas 2D, itulah kelas barunya yang bersebelahan dengan warung langgananku. Dikelas itulah aku dan dia mulai menjalani hubungan yang lebih mendalam jika bisa dikatakan demikian. Hari-hariku kurasakan bagai di awang-awang jika bersamanya. Belum pernah aku merasakan cinta yang begitu dalam dengan seorang wanita. Setiap pulang sekolah sesal yang ku rasakan karena harus berpisah dengannya. Sesampaiku dirumah, ingin ku putar waktu lebih cepat agar aku bisa segera berjumpa dengannya lagi. Mungkin inikah yang disebut sebagai cinta pertamaku. Tak kuasa aku membendung rasa cinta yang tertanam dalam hatiku ini. Inginku selalu bersamanya menghabiskan waktu seharian, agar rindu dalam hatiku bisa terobati.

Suatu pagi saat aku berangkat ke sekolah dengan menaiki angkot berwarna hijau. Aku duduk didepan bersama salah seorang temanku. Tiba-tiba angkot yang aku tumpangi berhenti sejenak, karena ada angkot lain yang berada didepanku sedang menurunkan penumpang. Samar-samar aku lihat seorang gadis duduk paling belakang sedang asik bercanda tawa dengan teman-temannya. Kurasakan dekat sekali, aura yang muncul dari gadis itu. Setelah beberapa saat aku lihat, ternyata dia adalah Luh Jati bersama kawan-kawannya. Aku terus menatapnya, meski ia tak tahu aku mengintipnya dari belakang. Kebetulan temannya mengetahui keberadaanku, lalu memberitahunya. Ia menoleh kehadapanku dan melambai-lambaikan tangan sambil menciumi tangannya kemudian meniupnya kearahku, mengirimkan satu kecupan dari hatinya padaku. Aku pun membalasnya dengan ‘menangkap’ ciuman hatinya itu dan memegang erat sambil menelungkupkan tanganku di dada. Tak hanya itu, dia juga melakukan hal lain untuk mengungkapkan rasa hatinya padaku. Namun, kurasa dia mulai berlebihan hingga aku tak bisa menemaninya karena malu dengan temanku, juga kondisinya memang tidak tepat. Aku dan dia bersama-sama sedang berada dalam mobil angkot yang berbeda. Akhirnya mobil angkot yang ia tumpangi, juga aku beranjak dari pemberhentian sementara. Ia pun masih tetap berusaha bertingkah aneh sebagai tanda cintanya padaku. Tapi aku mulai benar-benar malu, tak kuasa lagi aku menemaninya. Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku sebagai tanda bahwa aku tak tahan lagi, seraya berpura-pura tak perhatian dengannya. Demikian juga dengannya, mungkin karena merasa aku tak perhatian lagi dia merasa gerah dengan sikapku. Tangannya pun mulai menutupi wajahnya dan mengalihkan perhatiannya dariku. Sempat terpikir perasaan bersalah karena aku tak sengaja membuat dia sedikit gerah, padahal aku hanya bercanda namun dia menanggapinya dengan serius. Mobil angkot yang ditumpanginya mulai menjauh, seiring dengan perhatiannya padaku yang juga mulai menghilang. Kesal hatiku karena sudah membuatnya sedikit gerah. Tak terasa mobil angkot yang aku tumpangi tiba disekolahku. Aku tak melihat dirinya keluar dari angkot, mungkin itu angkot yang lain pikirku. Dia seperti hilang begitu saja dari hadapanku. Bersalah rasanya, karena telah sedikit menyinggung perasaannya.

Bersambung…

    • yui’na
    • November 27th, 2008

    Wah,,,,,menegesankan nie,,,
    n lucu,,,
    Sebelumnya,menurut yui, klo crita menyangkut masa lalu tuch,gk menyenangkan.
    pa lg masalah CIntrong!
    but,setelah baca nie,,,,yui jd sadar klo tenyata,,,masa lalu tuch penting banger wt jd referensi kita ngejalanin sesuatu nantinya,,,,
    last,,,,
    wt yg punya nie blog,,
    SMANGAT!!!! n truz berkarya!!

    • Cut Amalia
    • Desember 5th, 2008

    WoWw,!! CritA yG lucHu,,,
    stLH bC ceRPen nE,,trNYta ana br sdR trkdnG kbiasaAN brK se2org tU gk sLM-a bruK,cnTh mLH dY jth cNT sM org yG dY bnci,!
    Nah,qT gk bole bnci brlbhn,bs jd dy prsaAN tu brblk 180!
    Slm ukhwh bwt yg blog,!
    Keep a spirit!

    • yups..
      sesuatu yang pernah aku rasakan dari sinetron..
      eh bener2 terjadi ama aku…ehe
      thanks a lot buuk..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: