Pacar Pertamaku, Musuh Besarku (Part-2)

Aku berdiri sendiri di pintu kelas menunggu bel tanda istirahat berbunyi. Hari yang tidak begitu istimewa namun selalu mempunyai sebuah arti untukku. Aku berharap bisa bertemu dengannya hari ini tanpa menghiraukan waktu yang cukup singkat. Hari yang terlihat cukup berbeda mulai datang. Terlihat kilauan berlian itu masih mengawang-awang dalam hatiku. Mengingat sudah cukup lama aku dan dia menjalin suatu hubungan yang tidak terungkapkan sebelumnya. Hanya berjalan apa adanya mengikuti kata hatiku dan hatinya tanpa terikat janji untuk saling mengisi dalam hati. Entah mungkin tak perlu rasanya sebuah ungkapan itu, namun tentunya tidaklah lazim bila tak ada sebuah hari dimana dia menerima cintaku. Hubungan yang berjalan begitu saja kini menyisakan arti yang lebih dalam. Kata-kata sayang selalu terlintas dalam hatiku juga hatinya. Setiap kali bertemu, tebaran senyumnya memeluk hatiku dalam-dalam dan membuatku terbuai dengan kata-kata cintanya. Bel pun berbunyi, aku berlari secepat kakiku melangkah menuju tempat dimana aku dan Luh Jati biasa bertemu. Tak lama aku pun sampai pada pintu kelasnya yang kurang terawat itu. Ku menoleh ke dalam kelas dan murid-murid yang baru saja usai belajar masih terdiam dalam kelas seraya merapikan buku dan bergegas meninggalkan ruangan. Dag dig dug hatiku tak sabar menanti semua murid keluar ruangan sehingga yang tinggal hanya aku dan dia saja. Ku beranikan diri masuk ke dalam kelas tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. Toh juga tak ada yang akan memakanku, pikirku. Sapaan sayang pun menghujaniku dengan lembut senyum manisnya. Senang rasanya hatiku karena kesempatan yang ku tunggu telah datang. Ku habiskan waktuku bersamanya hingga akhir bel berbunyi. Bercanda tawa, sambil membaca sebuah komik 17 tahun keatas. Bukan komik vulgar atau sejenisnya, melainkan komik buatan orang jepang dengan tokoh anak kecil yang super bandel dan selalu berbuat hal-hal yang konyol dan menjengkelkan, Crayon Shincan begitulah namanya. Tak luput juga, aku dan dia saling gelitik, karena terlalu menghayati isi komik itu. Hampir pecah urat nadiku karena tertawa bersamanya. Sepertinya menjadi hari yang benar-benar beda dari sebelumnya. Aku pun akhirnya berbalik arah menuju kelasku, karena waktunya belajar lagi sudah tiba. Meski aku telah berpisah dengannya, tapi kurasakan dia masih ada disampingku, bercanda tawa denganku. Aku tersenyum-senyum sendiri, membayangkan belaian tangannya membelai keningku. Tak kusangka, aku telah melupakan kewajibanku untuk memperhatikan Bapak Guru menjelaskan di depan kelas. Tiba-tiba Pak Guru menanyaiku, aku pun hanya bisa terdiam dan terbengong tak bisa menjawab pertanyaan itu. Betapa malunya aku dihadapan teman-teman karena tak bisa menjawab pertanyaan yang mudah sebetulnya. Tapi aku segera melupakannya karena bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi dengan lantang. Ku berdiri di luar kelas bersama teman-teman. Mataku tertuju pada satu arah pojok barat daya sekolah tempat biasa ia muncul saat keluar dari kelasnya. Hari ini dia mendapat giliran untuk memimpin persembahyangan Tri Sandya. Sebagai seorang ketua kelas memang mempunyai kewajiban untuk memimpin persembahyangan sebelum semua murid-murid dibubarkan. Kutatap dengan tajam ketika dia berjalan ke depan, di depan tiang bendera. Dia menolehku dengan penuh senyuman manis sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh kedepan. Aku pun membalas senyuman itu. Bahagianya hatiku, lengkap sudah perjalananku hari ini. Rasanya seperti berada dalam surga dunia, milikku dan hatinya. Aku pun pulang dengan penuh semangat, ditemani bayangan wajahnya yang selalu tersenyum padaku. Mataku berbinar bagai awan yang terbang bebas di angkasa.

Tak terasa malam pun tiba. Suara jangkrik di belakang rumahku terdengar begitu nyaring. Begitu girangnya ia bernyanyi tanpa mengenal waktu. Menemani rasa rinduku padanya, begitu dalam, begitu inginku bertemu dengannya. Tak kuasa ku menahan diri, menunggu hari esok akan segera tiba. Ku coba menutup kedua mataku yang terus berkedip, tapi sulit rasanya mengingat kerinduanku begitu dalam untuk ku kalahkan. Meski terbayang dan terus melayang aku pun tertidur dengan bayangan wajahnya disisiku.

Bersambung

    • Cut Amalia
    • Desember 5th, 2008

    AsLkum,,!!
    Mmmm crPen bguz,figur-a lg jatuh cnt y…
    Dlm crt ne figur-a seorg ikhwan gK,??
    Kpn smbungn-a,?
    Slm ukhwuwah bwt pngrang-a

    • Om Swastiastu,
      emm..itu kisah waktu aku smp..hehe
      sambungannya masih sedang digarap…sabar yach..
      thanks atas commentnya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: