Pacar Pertamaku, Musuh Besarku (3)

Perlahan waktu berjalan, aku mulai terbangun dari tidurku yang penuh mimpi-mimpi yang indah. Ku terbangun di pagi itu, mengingat sebuah kenangan yang cukup menjadi sesuatu yang paling berkesan dalam hidupku. Saat aku berdiri di depan kelasku, ku lihat dia berjalan penuh tawa bersama temannya. Begitu riangnya sambil sesekali melirik padaku, seakan menggodaiku. Sangat kuat ku rasakan, perasaanku yang begitu dalam padanya seakan menjadi kekuatan bahwa godaan itu semakin mendekat padaku. Namun ku hanya bisa tersenyum lebar dalam hatiku. Belum cukup berani untuk seorang yang jarang berurusan langsung dengan wanita, dalam hal percintaan. Ya, karena baru pertama kali ini kurasakan ada seseorang yang juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Tak kusangka sebelumnya, perubahan kecil ini begitu besar dampaknya padaku. Sesaat setelah ada kesempatan untuk bertemu dengannya, kuberanikan diri untuk datang menghampirinya. Tentunya aku tidak sendirian, aku bersama dengan seorang sahabat karibku, senasib dan sepenanggungan bernama Wahyu yang akrab dipanggil Olel. Berat rasanya kakiku melangkah dalam kekalutan perasaan cinta dan takut yang tiba-tiba muncul begitu saja. Selain itu pula, hari itu adalah hari persiapan untuk menyambut Hari Raya Saraswati, semua siswa dan siswi sibuk dengan urusannya masing-masing. Sangat ramai seperti semua siswa SMP N 2 Selat tumpah ruah keluar dari sarangnya. Tak terasa, meski berat kaki ini melangkah sampai juga di penghujung lapangan menuju sebuah tangga atau undakan yang terbuat dari tanah. Ku lihat para adik-adik kelasku sedang sibuk bercanda tawa dengan temannya masing-masing. Mataku kemudian tertuju pada satu sosok yang terlihat semakin mendekat padaku. Lantas temanku berkata. “Hei Par, beruntung kali dirimu, pucuk dicinta ulam pun tiba”. Mendengar perkataan temanku, aku hanya bisa tersenyum lebar pada diriku sendiri. Betapa beruntungnya diriku, serasa tanpa ada halangan ataupun rintangan yang menghalangi perjalananku selama ini. Semua usaha pendekatan yang kulakukan seakan diberi jalan oleh Yang Kuasa. Timbul pertanyaan yang amat besar dalam kepalaku, benarkah semuanya ini? Sebegitu beruntungnyakah diriku ini menaklukkan seorang wanita…Dan suara langkah itu semakin mendekat padaku, dialah orang yang aku cari.

Ku ambil sebuah lipatan kertas dari kantung bajuku. Sebuah kartu ucapan selamat hari raya saraswati yang ku buat  dengan tanganku sendiri. Meski tak terlalu indah, tapi cukup bermakna untuk mengungkapkan isi hatiku padanya. Kini tiba saatnya aku menyerahkan lipatan kertas yang telah ku genggam dalam tanganku. Wajahnya yang merah merona itu sudah tepat berada dihadapanku. Sedikit gugup yang kurasakan karena baru pertama kali aku mengungkapkan perasaanku pada seorang wanita. Lantas ku pandang kedua matanya yang teramat lembut dan berkilauan bak berlian dalam perhiasan ibuku. Tersenyum malu sambil mengambil selembar lipatan kertas pula dari dalam kantung bajunya. Dia kaget karena aku juga telah menyiapkan kartu ucapan untuknya. Tak disangkanya ternyata aku juga memberikan sesuatu yang sama, sebuah pengungkapan perasaan antara aku dan dirinya. “Eh,kebetulan yach, kamu juga ngasi aku surat. Kok mau saamaan ya”, katanya sambil tersipu malu. Lucunya tak ada kata yang bisa terucap dari bibirku. Hanya bisa tersenyum kegirangan, membayangkan isi surat yang ia berikan padaku. Aku hanya mengiyakan saja dan mengucapkan Selamat Hari Raya Saraswati padanya, dengan jabatan tangan yang begitu erat. Tak ingin ku lepas di kala itu, namun sayang bel panjang tanda pulang sudah bebunyi dengan lantang. Walau hanya sebentar, tak menciutkan perasaanku karena aku mendapatkan sesuatu yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Jabat tangan itu menjadi pertanda perpisahanku dengannya. Semua siswa pun berbaris dengan rapi di tengah lapangan, seraya bersembahyang bersama. Aku memilih berbaris paling depan bersama beberapa temanku. Ku lihat dia sedang menyiapkan barisan teman-teman sekelasnya. Seperti yang terjadi sebelumnya, ku tatap wajahnya dengan begitu tajam. Masih belum cukup rasanya hatiku untuk bisa bersamanya. Lama ku nanti akhirnya dia baru menyadari bahwa sejak lama aku menatapinya. Baru terhenyak rasa hatiku, seperti menanti sesuatu begitu lama akhirnya penantian itu berakhir. Melihat senyum manisnya pun cukup bagiku untuk mengobati kerinduan disaat aku dan dia kembali ke peranduan masing-masing.

Tak terasa, persembahyangan Tri Sandya bersama pun berakhir. Tiba waktunya Pak guru membubarkan barisan satu per satu. Haah, galau hatiku jika harus menghadapi saat-saat seperti ini. Selalu terjadi perpisahan dalam satu rentang waktu. Padahal kerinduanku belum sepenuhnya terobati. Hanya sebuah senyuman terakhir sebelum ia pulang yang bisa sedikit mengobati dan menahan gejolak perasaanku padanya.

Bersambung….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: